//
you're reading...
Bengkayang

Dinas PU “Gadungan” Meresahkan Pengendara

Jalan berlobang atau ruas jalan yang rusak memang perlu diperbaiki guna melancarkan arus lalulintas pengendara. Untuk memperbaiki (menambal) jalan yang demikian butuh waktu yang lama apabila hanya mengharapkan Pemerintah yang turun langsung, karena untuk memperbaikinya perlu anggaran yang tersedia. Terkait hal itu, masyarakat tertentu yang mulai jenuh menunggu adanya perbaikan dari pihak pemerintah akhirnya turun langsung. Mereka menyediakan semen, pasir, batu, tanah timbunan, peralatan bangunan guna menambal atau memperbaiki jembatan yang rusak.

Upaya tersebut patut dipuji karena inisiatif yang dilakukan demi kepentingan umum. Namun siapa sangka, ternyata dibalik niat baik tersebut, para pengendara menjadi resah. Dimana setiap kali melintasi titik-titik tertentu dimana ada perbaikan jalan oleh masyarakat (oknum), para pengendara terpaksa tersendat perjalanannya. Mereka dihentikan untuk dikutip uangnya. Para pembuat jalan “dadakan” itu berdalih kutipan uang sebagai ganti rugi dari bahan-bahan yang telah mereka keluarkan. Biasanya besar kecil pungutan tergantung dari jenis kendaraan yang dikendarai.

Khusus sepeda motor, minimal dikenai tariff Rp.2000, Kendaraan Roda Empat dikenai Rp.5000. Nilai uang tersebut jumlahnya tidak besar, namun bila sepanjang perjalanan ada lima atau sepuluh titik yang meminta pungutan, sudah berapa uang yang harus dikeluarkan. “Kejadiannya bukan hanya sekali saja, besok-besoknya masih juga ditemui. Ini sangat meresahkan. Kita mau menolak memberikan sumbangan, bagaimana, kendaraan kita sudah dihadang,” kata Thomas saat mengadukan hal ini usai bermain Futsal di Lapangan Angkasa, Jumat (2/7).

Thomas menceritakan pengalaman itu setelah, beberapa hari lalu Ia berkendaraan menuju Singkawang. Dinas Pekerjaan Umum (PU) “Gadungan” itu mulai ditemui ketika memasuki wilayah Kecamatan Sungai Betung. Dari Kecamatan itu, hingga Bagak Sahwa (Nyarumkop) beberapa kali Ia dihentikan oleh Oknum masyarakat yang memperbaiki jalan tersebut. “Sekali berhenti saya diminta uang, sebagai ganti bahan-bahan yang telah mereka keluarkan untuk menambal jalan. Tidak besar memang, tapi kalau hal itu ditemui lagi dibeberapa tempat, kan lumayan juga,” seloroh Thomas.

Lebih lanjut, Thomas menyebutkan hal itu tidak hanya ditemui sekali, pernah sebelumnya Ia mengalami hal yang sama. Ada kecurigaan tersendiri dalam pemikirannya, bila tindakan yang dilakukan masyarakat tertentu itu sebagai sarana mencari keuntungan semata tidak berdasarkan pada kepentingan umum. Itu dikatakannya karena kutipan yang ditarik dari pengendara dilakukan dengan cara paksaan, harus bayar. Terkait kejadian yang dialaminya itu, Thomas berharap, khususnya kepada Pemda Bengkayang terutama instansi terkait, yakni Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar dapat melakukan peninjauan kembali terhadap tindakan masyarakat tertentu yang sangat meresahkan pengendara.

“Tidak hanya disepanjang jalan Bengkayang-Singkawang, ruas jalan lain juga harus aman dari Dinas PU Gadungan tersebut, sebab mereka sangat mengganggu perjalanan. Dan juga dengan kejadian itu, sudah seharusnya Pemda mengambil pelajaran agar segera memperhatikan kondisi jalan yang mengalami kerusakan,” tandas Thomas.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: