//
you're reading...
Adat Dayak dan Budaya

Terpilihnya Gubernur Sebagai Ketua DAD Sangat Disayangkan

Oleh : KRISANTUS

Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH

Terpilihnya Gubernur Kalbar, Cornelis sebagai Ketua DAD Kalbar 2010-2015 secara aklamasi melalui Musdat IV yang berlangsung, Sabtu (20/11) di Hotel Kini, Pontianak sangat disayangkan, karena hal itu mempersempit ruang bagi generasi
muda Dayak yang ada saat ini. Hal ini diungkapkan salah seorang Pemuda Dayak Bakati’ Rara, Kabupaten Bengkayang, yakni Irawan, Minggu (21/11) di Bengkayang.

“Semestinya Gubernur memberikan kesempatan kepada generasi muda Dayak yang ada dan memiliki kemampuan untuk memimpin DAD lima tahun kedepan,” terang Irawan.

Menurut Irawan, perlu peluang tersebut diberikan kepada kaum muda karena Ia melihat hal itu (posisi Ketua DAD) sebagai hal yang berpotensi dalam mengembangkan generasi Dayak kedepan. Artinya, DAD menjadi salah satu upaya
menempa jiwa kepemimpinan kaum muda Dayak yang diharapkan pada kedepannya dapat menjadi generasi penerusnya. Selain itu, faktor kesibukan sebagai seorang pejabat negara atau wakil presiden di daerah, tentunya akan banyak waktu yang tersita sehingga konsentrasi dalam mengurus organisasi Dayak terbesar di Kalbar ini akan terpecah.

“Tepatnya, Gubernur diposisikan sebagai pembina di DAD sebab dengan begitu akan memberikan pembinaan kepada generasi muda,” ungkap Irawan.

Meski demikian, karena terpilihnya Gubernur telah melalui prosedur yang berlaku di DAD, Ia tetap akan mendukung kinerja yang akan diprogramkan, termasuk salah satunya dalam mendukung diaktifkannya kembali fungsi dan peranan DAD ditingkat kecamatan.

Diskusi

8 thoughts on “Terpilihnya Gubernur Sebagai Ketua DAD Sangat Disayangkan

  1. Menurut saya, sudah sangat tepat jika Pak Cornelis terpilih sebagai ketua DAD, sebab dengan demikian citra DAD ke depan menjadi lebih baik.
    Pengurus DAD tidak ada dikotomi tua muda, yang muda harusnya tahu diri, apalagi Irawan, apalah kiprahnya selama ini?.
    Untuk itu yang muda harus mempersiapkan diri, DAD harus dipimpin oleh orang yg sudah matang dan mapan, jangan sampai DAD hanya jadi organisasi “pengemis” yg setiap kegiatan selalu minta sana sini untuk kebutuhan dana. Jadi Ketika Cornelis terpilih sebagai ketua, merupakan sebuah keputusan terbaik mengingat kiprah dan kemampuan serta keberanian beliau dalam memimpin telah teruji.
    Saya kira hanya orang yg berpikiran sempit yang mengatakan bahwa dengan terpilihnya Cornelis mempersempit ruang gerak, apanya yang sempit..ruang gerak atau pikiran yg memberikan komentar?

    Posted by Robert | November 21, 2010, 10:37 am
  2. Terimakasih atas komentarnya bang…!!

    Posted by bengkayangku | November 21, 2010, 11:18 am
  3. Komentarnya, lebih menyudutkan kemampuan kaum muda. Seakan punya pengalaman sendiri terkait organisasi yg menggandalkan proposal.

    Posted by Flo | November 21, 2010, 5:04 pm
  4. Sebenarnya bukan soal tua atau muda. Yang saya inginkan dari seorang pemimpin adalah, tegas, cerdas, berani, bertanggung jawab, tidak plin plan, dan tahu diri. Dikaitkan dengan terpilihnya Cornelis menjadi Ketua DAD Kalbar bagi saya tidak perlu saya risaukan hanya saja jika menjadi pemimpin Dayak, berjuanglah untuk Dayak bukan untuk diri sendiri karena sekarang Dayak itu bukan lagi suku tetapi Bangsa Dayak karena terdiri dari beragam suku dan bahasa.
    Tidak pantas lagi Dayak disebut suku melainkan Bangsa. Saya bukan mengada-ada. Jika mencermati tulisan Tjilik Riwut dalam setiap bukunya selalu kita menjumpai perkataan “Suku Bangsa Dayak” yang artinya Dayak ini terdiri dari suku-suku yang menjadi sebuah Bangsa. Perlu diingat bahwa Dayak pernah menghiasi peta politik Indonesia di jaman orde lama.

    Posted by estimate | November 23, 2010, 1:44 am
  5. Beragama tidak menjadikan seseorang itu bagus akhlaknya. Mungkin yang lebih baik adalah bertanggung jawab. Tidak beragama sekalipun kalau dia bertanggung jawab maka akan bagus juga dia memimpin. Bukan saya melarang orang untuk beragama cuma saya lihat banyak orang menganut agama justeru banyak pula oknum yang rakus dan korupsi. Tidak agama apapun sama semua kelakuan manusianya.
    Jadi memimpin sebuah organisasi bukan cukup sekadar beragama saja namun lebih dari itu yaitu tanggung jawab. Banyak pemimpin kita hanya pandai ngomong tapi tidak ada implementasi. Sekarang saatnya bicara sama dengan perbuatan, artinya talk less do more.

    Posted by estimate | November 23, 2010, 2:21 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: