//
you're reading...
Adat Dayak dan Budaya, Pariwisata

Sibakng Bengkayang Masuk Rekor MURI

Oleh : KRISANTUS

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot menerima Piagam Pemecahan Rekor MURI Beduk Terpanjang pada 31 Desember 2010

Kekayaan seni dan budaya kabupaten Bengkayang, khususnya Sibakng (Beduk) yang berasal dari Masyarakat Dayak Bidayuh kembali mengharumkan nama Bengkayang ditingkat Nasional. Bagaimana tidak, setelah Rumah Adat, Baluk menempatkan diri di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tahun 2010 ini, tepatnya pada malam pergantian tahun (31/12/10), kekayaan seni dan budaya Dayak Bidayuh ini kembali menempatkan diri sebagai pemecah rekor beduk terpanjang se-Indonesia. Adapun panjang beduk tersebut yakni 20.50 Meter dan berdiameter 1.6 Meter.

Menurut Kepala Seksi Kesenian Tradisional dan Modern Dinas Budparpora Bengkayang, Ricky H. Silalahi menyebutkan, pemecahan rekor itu sendiri setelah pihaknya, mendapat penghargaan dari pihak MURI yang diwakilkan kepada Desi Dwi Anestia Putri. Penghargaan itu sendiri langsung diserahkan kepada Bupati Bengkayang pada saat malam pergantian tahun di Lapangan Sepakbola Kompi 641 Senapan C, Bengkayang.

Sibakng merupakan alat musik tradisional masyarakat Dayak Bidayuh yang sebagian besar tersebar di Kecamatan Jagoi Babang, Siding dan sebagian di wilayah Malaysia. Alat musik ini biasa digunakan oleh masyarakat setempat sebagai sarana dalam menggelar upacara adat, baik upacara memulai menanam, panen padi, tolak bala, musyawarah penting dalam masyarakat, dan yang paling dikenal adalah pada saat Nyobeng atau upacara adat memandikan tengkorak manusia. Sibakng bagi masyarakat Dayak Bidayuh ditempatkan pada Rumah Adat Baluk. Untuk membunyikan alat ini tidak dapat dilakukan sembarangan namun harus dilakukan oleh Ketua Adat setempat. Bagi masyarakat yang membunyikan Sibakng sembarangan, maka mereka dapat dikenai hukuman adat sesuai dengan aturan adat yang berlaku.

“Dengan masuknya Sibakng dalam rekor MURI, ini berarti alat ini menjadi yang pertama yang mampu masuk dalam rekor MURI bagi Kabupaten Bengkayang,” terang Ricky dengan bangga, Rabu (5/1) diruang kerjanya.

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot, S.Pd mengangkat piagam pemecahan rekor terpanjang, 20.50 Meter.

Dijelaskannya, Sibakng yang telah mengharumkan nama Bengkayang ditingkat Nasional ini dibuat dengan kerja keras dan membutuhkan waktu selama tiga bulan, September, Oktober dan Nopember. Adapun proses pengerjaannya, dimulai dengan survey terhadap kayu yang akan digunakan yang akhirnya terpilih kayu Tengkawang Gunung. Kayu ini diperoleh dari Gunung Bawang. Setelah mendapat izin dari masyarakat, kayu ini ditebang menggunakan Chainshaw, dibersihkan lalu diangkut melalui aliran Sungai Subah untuk dibawa ke Sungai Betung. Sesampai di Sungai Betung, kayu mulai bulatkan dan dilubang. Pekerjaan tersebut membutuhkan waktu selama satu minggu. Sejak berada di Sungai Betung, Kayu Tengkawang ini dikerjakan oleh Masyarakat Dayak Bidayuh yang berasal dari Kecamatan Siding sebanyak 9 orang dan diketuai oleh Niram. Selanjutnya, kayu yang hampir jadi tersebut diangkut ke Bengkayang untuk dirakit menjadi sebuah Sibakng. Proses perakitannya juga membutuhkan waktu selama satu minggu karena sekaligus diberikan ornament oleh Ketua Organisasi Pecinta Seni dan Budaya Bengkayang, “Pakomoatn Bengkayang”.

“Minggu pertama bulan Desember 2010, semua pekerjaan selesai dan siap dinilai oleh Tim dari MURI,” jelas Ricky. Pada kesempatan itu, Ricky menjelaskan bahwa hal utama yang melatarbelakangi pihaknya untuk menyelenggarakan pembuatan Sibakng terpanjang di Indonesia ini adalah dalam rangka melestarikan khasanah budaya salah satu suku bangsa di Indonesia, khususnya Dayak Bidayuh. Selanjutnya, dengan pelestarian itupula, hal tersebut juga mewujudkan sebuah kepedulian Pemda Bengkayang kepada para pecinta seni didaerah ini.

“Semoga dengan adanya terobasan seperti ini, masyarakat semakin mencintai seni dan budaya mereka agar terus dilestarikan,” tandasnya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: