//
you're reading...
Bengkayang

PT. TPA Polisikan Danlanud Singkawang II

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

(BENGKAYANG)-Dianggap telah melakukan tindak pidana pencurian buah sawit, PT. Tanggi Prima Agro (TPA) melaporkan Komandan Landasan Udara (Danlanud) Singkawang II yang sudah tidak aktif lagi atau pensiun, Letkol PNB. (Purn.) Edward Tenlima Alias Edo (74) ke Polres Bengkayang. Hal yang sama juga menimpa adik kandungnya, Yohanes J. Tenlima. Laporan tersebut berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/414/B/XI/2010 tertanggal 18 Nopember 2010.

Danlanud Singkawang II

Letkol PNB. Edward Tenlima (tengah) sedang berbincang dengan Pengacaranya, Widya Nur Hidayah Nugraha Kusuma Wardhana

Akibat dari laporan PT. TPA itu, bersama adik kandungnya, purnawirawan kelahiran 1936 sejak tanggal 7 April 2011 terpaksa harus mendekam di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Bengkayang hingga diadakan persidangan pertama, pembacaan dakwaan pada 19 April. Kini, setelah mendapat jaminan dari pihak keluarga, usai persidangan, pria yang menjadi saksi sejarah penumpasan pemberontak PGRS Paraku ini menjadi tahanan kota.

Berdasarkan Surat Dakwaan dari Kejaksaan Negeri Bengkayang Nomor: REG.PERKARA : PDM-64/BKY/Ep.1/04/2011 mendakwa Edward maupun Yohanes Tenlima pada 18 Nopember 2010 sekira pukul 12.00 WIB telah mengambil barang sesuatu berupa buah sawit sebanyak 3 ton, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, yakni PT. Tanggi Prima Agro, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, yang dilakukan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan bersekutu.

Dalam Surat Dakwaan itu juga dijelaskan perbuatan tersebut dilakukan oleh para terdakwa dengan cara keduanya terlebih dahulu memiliki niat untuk mengambil buah sawit, dimana pada tanggal 15 Nopember 2010 melalui terdakwa Yohanes J. Tenlima mendatangi Suherwin untuk menyewa dump truk guna mengangkut sawit pada tanggal 18 Nopember 2010. Sesuai waktu yang disebutkan, Abiap Sike yang mengetahui tindakan dua-kakak adik itu menegur keduanya.

Setelah terkumpul sekitar 3 ton, buah sawit tersebut kemudian diangkut dengan mobil dump truk merk Mitsubishi Ragasa warna kuning, No. Pol. KB 8958 menuju PT. MISP dengan rencana dijual. Namun dalam perjalanan, tepatnya di Ds. Sejadis, Kec. Ledo, mobil tersebut dihentikan oleh petugas Kepolisian karena sebelumnya telah mendapat laporan dari PT. TPA, yang kemudian diamankan. Akibat perbuatan yang disangkakan melanggar Pasal 363 Ayat (1) ke-4 KUHP dua orang itu, oleh PT. TPA, mengklaim pihaknya mengalami kerugian materi kurang lebih Rp.2,4.

Selanjutnya, sidang perkara Nomor: 35/Pid.B/2011/PN.BKY atas nama Edward Tenlima alias Edo, dkk mengenai Pembacaan Dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) terpaksa ditunda karena ketidakhadiran para saksi, dan digelar lagi pada 26 April.

Saat ditemui, baik Edward maupun Yohanes menganggap bahwa dakwaan yang ditujukan kepada mereka tidak beralasan sebab buah sawit yang dimaksud oleh pihak PT. TPA berada diatas tanah miliknya sendiri.

“Tanah seluas 10 Ha itu sudah dikelola sejak tahun 1979 dan kami tidak pernah menjual tanah tersebut kepada pihak perusahaan, jadi wajar kalau kami mengambil apa yang berada diatas tanah kami,” terang Edward.

Diceritakannya, tanah seluas 10 Ha yang tidak pernah dijualnya tersebut sejak tahun 2007 oleh PT. TPA telah ditanami sawit. Namun seiring berjalannya waktu hingga tanaman sawit yang dimaksud telah memasuki masa panen, Ia bersama petani tidak pernah menikmati hasil sawit dilahannya sendiri. Setelah berjalan (panen) hingga lebih dari setahun atas tanaman sawit itu, mereka mulai bertanya-tanya mengenai tindakan perusahaan yang tak kunjung memberi kejelasan mengenai hasil sawit yang seharusnya mereka nikmati itu.

“Bagaimana tidak, sawit itu berada diatas tanah kami, darimana bisa dikatakan kalau kami mencuri?,” terangnya merunut lahan-lahan milik Petani pada Kelompok Tani “Pantang Menyerah” yang juga telah ditanami sawit oleh PT. TPA.

Janji Manis Berbuah Empedu

Danlanud Singkawang II, Letkol PNB. Edward Tenlima

Mantan Danlanud Singkawang II Dipolisikan oleh PT. Tanggi Prima Agro

Janji manis PT. TPA yang akan memberdayakan masyarakat setempat, Desa Bange, Kecamatan Sanggau Ledo berbuah pahit, sepahit empedu. Jangankan menerima beasiswa bagi anak-anak mereka hingga tingkat Perguruan Tinggi atau mendapat kursus komputer maupun mendapat bantuan bidang pertanian, untuk menikmati hasil sawit diatas lahannya saja masyarakat tidak bisa.

Baik Edward maupun Yohanes serta masyarakat setempat, Dusun Merabu, menyatakan pihaknya tidak pernah menjual tanah milik mereka kepada pihak perusahaan. Pada kesepakatan awal, penyerahan lahan untuk ditanami sawit itu dilakukan dengan pola kemitraan atau bagi hasil. Sekali lagi, mereka tidak pernah menjual lahan mereka kepada pihak perusahaan.

Berdasarkan Surat Penyerahan dan Ganti Rugi Tanam-Tumbuh yang dibuat oleh PT. TPA tertanggal 22 Maret 2007 yang ditandatangani Edward Tenlima (pemilik tanah) dan Erlinda Morlifa (Direktur), tampak perusahaan berusaha menguasi tanah/lahan milik masyarakat hanya dengan mengganti tanam-tumbuh diatas tanah tersebut.

Adapun isi surat yang dibuat oleh PT. TPA itu adalah meminta agar Edward Tenlima : Pertama, Bersedia menyerahkan sebidang tanah Negara yang dikuasai sejak 1979 dan dibuktikan surat pernyataan dengan luas 10 Ha kepada PT. TPA untuk di HGU-kan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan perusahaan maupun pemerintah. Kedua, Bahwa penyerahan ini juga meliputi seluruh tanam-tumbuh yang berada diatasnya dengan harga ganti rugi, Durian (8=Rp.800.000), Sagu (15=Rp.150.000), Karet (8=Rp.40.000), Rambutan (4=Rp.120.000), Asam (7=Rp.350.000), Cempedak (10= Rp.300.000), Kemiri (1=Rp.30.000), Petai (3=Rp.100.000) dan Jambu (1=Rp.20.000) sehingga jumlah keseluruhan adalah Rp.1.960.000. Ketiga, berdasarkan poin kedua diatas, telah disepakati bahwa total harga ganti rugi tanam-tumbuh berjumlah Rp.1.960.000 yang pembayarannya setelah semua hal yang berkaitan dengan surat-menyurat dilengkapi. Keempat, Terjadinya penyerahan ini maka segala hak dan kewajiban yang berhubungan dengan penguasaan tanah tersebut menjadi tanggungjawab sepenuhnya oleh PT. TPA.

Pada poin keempat inilah yang sepertinya dianggap oleh perusahaan sebagai dasar untuk menguasai lahan masyarakat dengan hanya membayar ganti rugi tanam-tumbuh. Sementara saat ini, beberapa masyarakat yang hadir dalam persidangan mengaku tidak pernah menyerahkan surat kepemilikan tanah kepada Perusahaan, apalagi hingga menjualnya.

Diskusi

3 thoughts on “PT. TPA Polisikan Danlanud Singkawang II

  1. kalau qt menelusuri kembali bagaimana PT.TPA masuk diwilayah sanggau ledo dan sekitarnya,ini berawal izin yang diberikan oleh pemda wajib pemda mengawal semua izin yang diberikan dari pemetaan lahan, konsensus dengan masyarakat,penanaman sampai dengan panen bukan hanya bisa memberikan izin tetapi tidak serius menyelesaikan sengketa yang timbul akibatnya rakyat dalm posisi yang lemah baik pendidikan yang rendah, modal dan status sosial selalu lemah bahkan cenderung terkalahkan.Pemda harus bisa me-mediasi antar perusahaan dan rakyar pemilik lahan, jangan memberi solusi tetapi keputusan dengan tegas.

    Posted by stepanusloy@yahoo.co.id | April 20, 2011, 2:37 am
  2. pak edo…saya juga tmn anak bpk..nyong.saya dukung bpk,jgn serahkan tanah kita ke pt yg tdk bertanggungjawab,dan cuma mikir menguasai dg janji manis diawal dan busuk dibelakangnya…..

    Posted by haidar | Juni 27, 2011, 1:24 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: