//
you're reading...
Adat Dayak dan Budaya, Bengkayang, Perkebunan, Sosial

Jaga Situasi Kondusif, Jangan Bawa Unsur SARA

Oleh : DIDI SULAIMAN/Kalbar Times

[BENGKAYANG]-Situasi kondusif yang telah berlangsung lama di Kabupaten Bengkayang diharapkan tidak lagi dinodai oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab, karena hal tersebut dapat menjadi pemecah belah kehidupan berbangsa yang pada akhirnya memperlambat proses pembangunan.

Hal ini merupakan sebuah peringatan bagi semua pihak agar tidak mengulangi kejadian yang menimpa Matius (16) dan Ananias (17) yang dituduh sebagai pencuri oleh salah seorang penjaga kebun sembari mengumpat dengan mengucapkan kata-kata yang berbau SARA, yakni “Saya Tidak Takut Pada Suku…..”.

“Sangat disayangkan, masih ada warga yang berdomisili di Bengkayang yang mengeluarkan kata-kata berbau SARA seperti itu,” kata salah seorang warga Kerasik, Kecamatan Suti Semarang, SIUS (53), Senin (30/5) di Bengkayang.

Menurutnya, situasi kondusif yang berlangsung saat ini semestinya tidak lagi dikeruhkan dengan hal semacam itu, karena bila situasi sudah tidak kondusif, yang dirugikan adalah masyarakat Bengkayang secara keseluruhan. Berdasarkan penuturan AKIUN (50), paman Matius dan Ananias, kejadian bermula ketika Senin (30/5) kemarin, sekira pukul 03.00 WIB, kedua adik beradik tersebut berangkat mencari batang pisang yang akan digunakan sebagai pakan ternak di Kebun Ajung. Namun sesampai di Kebun, Penjaga kebun sontak mendatangi kedua bersaudara itu sembari mengeluarkan kata-kata tidak pantas hingga membawa unsur SARA. Tidak terima dilecehkan, akhirnya Matius dan Ananias menyampaikan kejadian yang baru saja mereka alami kepada paman mereka, AKIUN.

Lebih lanjut, Akiun menjelaskan bahwa tanah kebun milik Ajung sebelumnya adalah tanah miliknya. Beberapa waktu lalu, karena adanya keperluan mendesak, tanah itu kemudian dijualnya. Namun dalam perjanjian jual-beli, disepakati bahwa tanaman seperti pisang yang berada diatas tanah tersebut tidak dijual. Maksudnya, Akiun hanya menjual tanah namun tidak menjual segala tanam tumbuh yang ada diatas tanah tersebut.

“Jadi kenapa keponakan saya dilarang mengambil batang pisang tersebut,” ungkap pria berambut kuncir ini.

Agar permasalahan ini tidak berlarut dan meluas, Akiun yang juga sebagai Kepala Binua Kemayo menyatakan pihaknya akan membawa permasalahan tersebut keranah adat terkait pelecehan yang dilontarkan oleh penjaga kebun milik Ajung yang mana saat ini sedang dipersiapkan.

“Tidak ada maksud lain dikaitkannya masalah tersebut kedalam ranah adat, selain untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan sehingga menimbulkan situasi yang tidak kondusif di Bengkayang,” tandas Akiun.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: