//
you're reading...
Bengkayang, Catatanku

KESAKSIAN M. NAZARUDDIN

Dikutip dari : http://id.berita.yahoo.com/serangan-lanjutan-dari-nazaruddin.html

M. Nazaruddin

Bekas Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin mengaku bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat mengetahui soal aliran dana ke pihak-pihak yang mendukung pemilihan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Pernyataan Nazaruddin ini disampaikan dalam wawancara teleponnya dengan MetroTV dari sebuah lokasi yang dirahasiakan, Selasa sore, 19 Juli 2011.

Jumlah total uang yang dibagi-bagikan dalam kongres pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat mencapai Rp 50 miliar. Nazaruddin mengaku bahwa ia sendiri yang mengangkut uang dalam jumlah Rp 35 miliar menggunakan mobil boks ke Hotel Aston, tempat kongres berlangsung.

Ia juga mengatakan bahwa semua biaya pendukungan Anas Urbaningrum itu berasal dari berbagai proyek APBN. Tiap daerah perwakilan cabang yang mendukung Anas menerima uang mulai dari $10 ribu, $15 ribu sampai $40 ribu. “Saya ini di bawah kontrol Anas. Anas yang memerintahkan kasih ini, kasih ini,” kata Nazaruddin.

Ia pun mengaku kepergiannya ke Singapura adalah atas perintah Anas Urbaningrum. Dalam sebuah pertemuan di kantor DPP Partai Demokrat, Anas mengatakan, “Kalau kasusnya meledak, ente berangkat ke Singapura. Paling lama 3 tahun, setelah perubahan pemerintahan.”

Menurut Nazaruddin pula, Partai Demokrat sudah melakukan perjanjian-perjanjian tertentu dengan KPK dalam pengusutan kasus aliran uang Wisma Atlet Sea Games 2011. Nazaruddin menuding Anas sudah bertemu dengan Direktur Penyidikan KPK Ade Rahardja untuk menghentikan penyelidikan kasus tersebut hanya sampai Nazaruddin, tidak sampai Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Menurut Nazaruddin, sebagai imbalannya, Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah akan terpilih kembali sebagai salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam pemilihan ke depan. “KPK itu bohong semua, saya tahu KPK itu perampok,” kata Nazaruddin. Chandra Hamzah pernah datang ke kediamannya pada 2010 untuk menerima uang dari pengusaha. “Saya punya bukti rekaman CCTV-nya.”

DAYAT : DISTRIBUTOR UANG

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) Muhammad Nazaruddin menyebut beberapa nama yang diaakuinya, sangat tahu menahu terkait uang milik Anas Urbaninrum yang dibawa dengan mobil boks.

“Dayat yang antar uangnya. Dia itu supir Yulianis yang mengantar uang ke Anas,” kata Nazaruddin dalam pengakuannya yang disiarkan oleh Metro TV, Selasa (19/07/2011).

Nazaruddin mengungkap, dana penanganan Anas Urbaningrum saat Kongres Demokrat tahun lalu, berasal dari dana APBN. Uang sebesar Rp 30 miliar, yang dibawa dari Jakarta, kata Nazaruddin kemudian dibawa. Ke Hotel Aston. Yulianis, kata Nazaruddin adalah salah satu karyawannya yang memiliki supir bernama Dayat.

Lalu, nama Paul yang dimaksudkan Nazaruddin adalah orang kepercayaan Sesmenpora, Wafid Muharam yang kini ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

“Wafid adalah orang yang selalu membawa uang ke DPR. DPR dapat Rp 9 milyar, Anas dapat Rp 7 miliar,” kata Nazaruddin.

Nazaruddin mengaku, tak tahu persis keterkaitan Mennegpora dalam kasus Sesmenpora. Ia kembali mempertegas, DPR dalam pembangunan Wisma Atlit DPR mendapat Rp 9 milyar, sementara Anas Urbaningrum mendapat Rp 7 miliar.

“Uang kepada Anas, untuk kongres. Kita waktu itu memang untuk mencari dana. Kalau KPK mau meminta CCTV Hotel Aston, saat Kongres, di situ ada uang yang dikeluarkan dari mobil boks, 5 juta dollar US yang dibawa dari Jakarta, sama uang Rp 30 milyar. Ditaruh disatu kamar, terlihat siapa yang ambil uang itu yang berasal dari APBN,” tandas Nazaruddin.

SIA-SIA DUKUNGAN UNTUK CANDRA M. HAMZAH

Buron kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games Nazarudin kembali melancarkan tuduhan. Jika sebelumnya lewat SMS dan BBM kin Nazaruddin tampil lewat sambungan langsung telepon di breaking news Metro TV, Selasa (19/7/2011) sore.
Nazaruddin mengungkapkan ada deal khusus antara Anas Urbaningrum dengan dua orang oknum KPK yakni, Wakil Pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan Deputi Penindakan KPK, Brigjend Pol Ade Rahardja.

Nazaruddin mengungkapkan Anas Urbaningrum pernah bertemu di suatu tempat dengan Ade Rahardja dan Chandra M Hamzah. “Dealnya, Agar Chadra Hamzah terpilih kembali jadi pimpinan KPK dan Ade Rahardja terpilih. Lalu, Anas tidak boleh di panggil, Anggelina tak boleh dipanggil,” kata Nazaruddin.

Menurut Nazaruddin, sebenarnya KPK sudah punya cukup bukti untuk menjerat Anas Urbaningrum dalam kasus wisma atlet. Namun KPK tak melakukannya. Menurutnya Anas jelas menerima aliran dana wisma Atlet melalui PT Anugrah. PT Anugrah dibawah kontrol Anas.

Sementara itu, Juru Bicara KPK, Johan Budhi meminta Nazaruddin membuktikan ocehannya dengan pulang ke Indonesia. “Tidak ada hal yang baru dari ocehan Nazaruddin,” katanya.

Tersangka kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games, M Nazaruddin menuding tiga orang unsur pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diatur untuk merekayasa penyidikan kasus tersebut. Namun, KPK membantah tudingan Nazaruddin tersebut. “Nggak ada itu, omongan Nazaruddin itu fitnah semua dan tidak memiliki bukti,” kata Wakil Ketua KPK, M Jasin saat dihubungi Republika, Selasa (19/7) sore.

Jasin merupakan salah satu unsur pimpinan KPK yang disebut Nazaruddin diarahkan oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum untuk menghentikan penyidikan kasus suap itu hanya sampai di Nazaruddin dan tidak membawa-bawa petinggi Partai Demokrat lainnya. Selain Jasin, unsur pimpinan lainnya yang disebut adalah Wakil Ketua KPK Bidang penindakan, Chandra M Hamzah dan Deputi Penindakan, Ade Rahardja.

Khusus untuk Chandra dan Ade, Nazaruddin menyebut mereka berdua dijanjikan akan dipilih kembali sebagai pimpinan KPK periode 2012-2016. Pernyataan Nazaruddin itu disampaikan dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Jasin melanjutkan, ia tidak memiliki kepentingan apapun dalam penanganan kasus itu. Salah satu buktinya, ia tidak mencalonkan kembali sebagai pimpinan KPK berikutnya. Selain itu, ia juga mengaku tidak pernah kenal dan tidak pernah berbicara dengan Anas Urbaningrum sejak memulai pengabdiannya di KPK sejak delapan tahun lalu.

“Seumur-umur saya tidak pernah ngobrol ataupun bertemu dengan yang namanya Anas Urbaningrum,” kata Jasin.
Jasin mengatakan, terkait dengan dua unsur pimpinan lainnya, ia tidak mengetahuinya. Namun, ia menggambarkan, KPK sebagai lembaga penegak hukum tidak pernah terlepas dari fitnah seperti itu. Ia menganggap yang dilakukan Nazaruddin hanyalah fitnah belaka.

Jurubicara KPK, Johan Budi mengatakan, apapun informasi yang diberikan oleh Nazaruddin, KPK siap menindaklanjutinya. Dengan catatan, Nazaruddin harus memberikan informasi itu langsung kepada KPK. “Lah bagaimana mau kita proses kalau yang bersangkutan tidak pernah hadir penuhi panggilan KPK,” kata Johan di kantornya, Senin (19/7).
Terkait dengan kesepakatan antara unsur pimpinan KPK dengan Anas Urbaningrum, Johan membantahnya. Ia menyebutkan pengembangan penydikan kasus itu terus berjalan tidak hanya berhenti pada Nazaruddin.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: