//
you're reading...
Bengkayang, Bupati Bengkayang, DPRD Bengkayang, Pemda Bengkayang, Pendidikan

SMAK Bengkayang, Pertama di Kalimantan

SMAK Bengkayang

Dewan Pendiri SMAK Bengkayang Berfoto Bersama Siswa/i SMAK Santo Thomas Aquinas Bengkayang Angkatan Pertama

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

[BENGKAYANG] – Masyarakat Kabupaten Bengkayang patut berbangga karena daerah yang terbentang dari Jagoi Babang hingga Sungai Raya Kepulauan ini dipercaya oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Agama untuk menjalankan lembaga pendidikan Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) yang pertama di Pulau Borneo.

Adapun lembaga pendidikan yang dimaksud adalah SMAK Santo Thomas Aquinas yang dijalankan oleh Yayasan Santo Hieronimus Bengkayang dan berada dibawah naungan Keuskupan Agung Pontianak (KAP). Pendirian SMAK Santo Thomas Aquinas ini berdasarkan Surat Keputusan Uskup Agung Pontianak Nomor: 130/SK/2011 Tanggal 14 April 2011 Tentang Pembukaan SMAK dan Surat Keputusan Uskup Agung Pontianak Nomor: 800/02-YSH/Kep/2011.

Salah seorang pendiri SMAK Santo Thomas Aquinas, Yohanes, S.Ag menyampaikan kepada wartawan ini menuturkan bahwa pada awalnya, pada tahun 2007 bersamaan dengan kunjungan Dirjen Bimas Katolik ke Bengkayang, pemerintah pusat menawarkan kepada dua daerah, yakni Kabupaten Bengkayang dan Landak untuk menyelenggarakan lembaga pendidikan yang dimaksud dengan beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi dalam mendirikan SMAK. Namun, dari dua daerah itu, ternyata kabupaten Bengkayang lebih siap, termasuk dengan dukungan Asosiasi Katekist RI (ASKRI) Bengkayang dari dari Kabupaten Landak. Karena lebih siap, pada tahun 2008 dibentuklah panitia pendirian SMAK yang kemudian panitia mengajukan proposal pendirian yang ditujukan kepada Dirjen Bimas Katolik pada saat itu.

“Baru pada tahun 2010, proposal pendirian mendapat tanggapan dari Dirjen yang meminta agar penyelenggaraan lembaga pendidikan tersebut dapat dijalankan sambil menunggu dikeluarkannya Surat Ijin Operasional (SIO),” terang Yohanes sembari menyebutkan perihal dikeluarkannya SK Uskup Agung Pontianak.

Pria yang juga pemimpin umat di Stasi Lumar, Kecamatan Lumar ini juga mengatakan selama kurun waktu pembentukan panitia hingga keluarnya respon dari Kementerian Agama RI, pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemda Bengkayang terkait persiapan-persiapan penyelenggaraan. Seperti persiapan gedung tempat belajar mengajar, persiapan tenaga pengajar, penyusunan kurikulum dan lainnya.

Dikatakannya, bahwa kurikulum yang diterapkan di SMAK Santo Thomas Aquinas Bengkayang pada dasarnya disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku secara nasional, adapun mata pelajaran agama yang menjadi basic SMAK diatur sedemikian rupa sehingga proporsi keduanya sama. Pada bagian ini SMAK mencantumkan mata pelajaran Program umum dan program keagamaan, muatan lokal dan pengembangan diri beserta alokasi waktunya yang akan diberikan kepada peserta didik. Perlu diketahui, untuk program keagamaan meliputi Kitab Suci, Gereja, Iman dan Moral, Liturgi, Pastoral, Katekese, Pokok Iman dan Pastoral Dasar.

Tidak hanya mendapat respon tinggi dari masyarakat, SMAK ini ternyata juga mendapat perhatian khusus dari tenaga pengajar yang ada di Bengkayang, buktinya guru-guru yang menjadi tenaga pengajar di SMAK berasal dari guru-guru yang sudah berpengalaman dan berstatus negeri. Saat ini tenaga pengajar di SMAK berjumlah 19 orang tamatan S-1 maupun S-2 serta ditunjang 5 tenaga kependidikan.

Tahun 2011 ini merupakan tahun pertama bagi penyelenggaraan SMAK Santo Thomas Aquinas Bengkayang. Bersamaan dengan kalender pendidikan nasional, pada bulan Juli kemarin, pihak sekolah mengadakan penerimaan siswa baru. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMAK, Yohanes, meski keberadaannya termasuk baru, namun minat masyarakat terhadap SMAK cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan terdaftarnya 66 siswa dari berbagai SMP baik yang berasal dalam maupun luar kabupaten.

SMAK merupakan lembaga pendidikan menengah setingkat SMA, SMK dan MA. Hanya saja, keberadaannya dibawah naungan Dirjen Bimas Katolik, sama halnya dengan keberadaan MAN yang berada dibawah naungan Dirjen Bimas Islam. Mengingat SMAK juga menerapkan kurikulum pendidikan sesuai aturan Pendidikan Nasional, Yohanes menegaskan bila status lulusan SMAK nantinya sama dengan lulusan SMA, artinya mereka dapat melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi.

“Pada intinya, keberadaan SMAK ini berupaya mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas dan berakhlak mulia serta bertaqwa kepada Tuhan YME,” tandas Yohanes.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: