//
you're reading...
Adat Dayak dan Budaya, Bengkayang, Bupati Bengkayang, DPRD Bengkayang, Infrastruktur, Lingkungan Hidup Bengkayang, Pemda Bengkayang, Pemerintahan Desa, Perkebunan

Warga Pombay Laporkan Perambah Hutan Adat

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

[BENGKAYANG] – Tak ingin hutan adat diwilayah mereka rusak oleh oknum tertentu yang melakukan aktivitas penebangan tanpa ijin, Kamis (3/11) beberapa warga Dusun Pombay, Desa Lembah Bawang, Kecamatan Lembah Bawang Kabupaten Bengkayang menyampaikan laporan ke Polres Bengkayang.

Hutan adat yang dimaksud berada di Bukit Tengkorak yang juga termasuk dalam kawasan hutan lindung Gunung Bawang. Aktivitas itu, kini telah berlangsung selama satu bulan. Pada awalnya, warga setempat telah memberikan teguran kepada pelaku penebangan agar segera menghentikan aktivitas mereka karena kayu-kayu yang ditebang berada dalam wilayah hutan adat yang telah diresmikan pada tahun 2010 yang lalu. Dua minggu setelah itu, warga kembali mendatangi para pelaku, namun tetap saja aktitas berlanjut.

Menurut Beniyanto, salah seorang perwakilan warga, laporan ini diambil sebagai upaya untuk mengikuti prosedur hukum yang berlaku dan sebagai upaya untuk menghindari munculnya permasalahan lain. Dengan adanya laporan ini, warga berharap agar pihak kepolisian dapat mengambil tindakan lebih lanjut agar hutan adat tersebut tidak semakin rusak dengan menghentikan aktivitas penebangan. Apalagi pelaku penebangan tidak bisa menunjukkan bukti-bukti yang menyatakan aktivitas tersebut resmi.

Adapun jenis kayu yang diolah ditempat tersebut dikatakan berjenis Meranti, Tekam, Karoeng. Cetak ukuran 8 x 12. Kayu dikeluarkan satu minggu setelah didatangi masyarakat. Dikeluarkan disimpang Bansa, Panyubu, Sebakuan. Jumlah chainsaw 3 dengan karyawan 6 dan pemikul 4. Kuat dugaan kayu ini dijual ke Kabupaten Sambas melalui jalan perkebunan kelapa sawit di Dusun Molo maupun ke kota Singkawang karena daerah Pombay dan Lembah Bawang khususnya berbatasan langsung dengan dua daerah tersebut.

“Disamping itu akibat aktivitas itu juga, 3 buah jembatan yang dibangun masyarakat secara swadaya mengalami kerusakan karena proses pengangkutan kayu menggunakan truk dan john deeree,” pungkas Beni.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: