//
you're reading...
Bengkayang, Bupati Bengkayang, Kesehatan, Pemda Bengkayang, Sosial

Ingin Dua Anak, Marselinus Menderita

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

RRI Pontianak-Bengkayang

Keluarga Berencana

Kepala BPMPKB Kab. Bengkayang, dr. I Made Putra N. saat mengunjungi Marselinus (52) asal Dusun Pereges, Seluas yang mengalami pembengkakan setelah mengikuti program operasi gratis pemasangan alat kontrasepsi oleh BKKBN Kalbar

“Dua Anak Lebih Baik”, salah satu motto yang sering kita lihat terpajang pada kendaraan maupun poster dan jenis alat promosi lainnya milik BKKBN maupun lembaga dibawahnya tampak menjadi salah satu pemicu Marselinus Sulam (52) mengikuti program KB dengan memasang alat kontrasepsi (Pasektomi), disamping karena kondisi ekonomi keluarga yang bisa dikatakan sulit. Namun apa yang dialami Marselinus justru sebaliknya, Ia terpaksa menderita sejak dipasang alat kontrasepsi oleh oknum Dokter RSUD Bengkayang.

Marselinus Sulam, warga Dusun Pereges, Desa Seluas, Kecamatan Seluas sejak beberapa hari ini, terhitung mulai tanggal 25 Mei hingga berita ini diturunkan terpaksa harus menginap di RSUD Bengkayang guna menjalani perawatan pada alat kelaminnya yang mengalami gangguan usai dilakukan operasi pemasangan alat kontrasepsi (Pasektomi). Bahkan sebelumnya sudah beberapa kali melakukan pemeriksaan ulang pada rumah sakit yang sama.

Saat dijumpai, Rabu (30/5) di RSUD Bengkayang, Maria (36) istrinya menuturkan kejadian berawal ketika Ia dan suaminya disarankan oleh salah seorang Bidan di Puskesmas Seluas (EK), bahwa pada tanggal 8-10 Mei ini akan digelar Metode Operasi Pria (MOP) dan Metode Operasi Wanita, yang tidak lain adalah program pemasangan alat kontrasepsi pada pria dan wanita. Penyelenggaraan itu merupakan rangkaian pelaksanaan hari Pertasi Kencana, Lingkungan Hidup, Pangan Se-Dunia, Menanam Pohon Indonesia, HKG PKK Ke-40, Jambore Penyuluh Tingkat Propinsi yang dipusatkan di Komplek Kantor Bupati Bengkayang. Dimana sebagai penanggungjawab kegiatan adalah Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kabupaten Bengkayang.

Setelah mendapatkan informasi, pada tanggal 9 Mei, Marselinus, Maria beserta kedua anaknya, Eva (8) dan Nadia (3) berangkat ke Bengkayang guna mendaftarkan diri agar bisa mengikuti program KB tersebut. Keduanya bersepakat, Marselinus yang akan dipasang alat kontrasepsi. Kemudian pada tanggal 10 Mei, bertempat di RSUD Bengkayang, oleh para dokter Rumah Sakit tersebut Marselinus bersama 33 peserta lainnya (keseluruhan 4 laki-laki dan 30 wanita) menjalani operasi. Namun apa yang terjadi, sementara peserta yang lain dapat pulang kerumah masing-masing, Marselinus terpaksa menginap dirumah sakit selama 2 hari hingga tanggal 12 Mei.

Penyebabnya tak lain, bekas operasi pada alat kelaminnya belum membaik. Bahkan pada siang harinya (12/5) ketika hendak kembali ke kampung, Marselinus mendapatkan kejanggalan pada alat kelaminnya, dimana saat hendak buang air kecil (kencing), air seni (urine) bukannya keluar dari saluran normalnya, tetapi merembes melalui luka bekas operasi.

“Karena kuatir akan semakin parah, kami akhirnya kembali lagi ke Rumah Sakit keesokan harinya,” ungkap Maria sembari menyebutkan bila pada saat itu telah terjadi pembengkakan pada alat kelamin suaminya sekira dua kali kepalan tangan orang dewasa.

Tiba di Rumah Sakit, Marselinus kemudian mendapat perawatan, dimana pada alat kelaminnya dipasang selang guna memudahkannya membuang urine. Sehari setelah dirawat, pembengkakan perlahan-lahan mulai menyusut. Keduanyapun diperbolehkan pulang ke kampung untuk selanjutnya pada tanggal 30 Mei kembali lagi ke Rumah Sakit. Namun, belum genap masa yang disarankan, pasangan suami-istri itu sudah datang lebih awal, yakni pada tanggal 25 Mei dan sampai sekarang Marselinus masih dirawat inap. Sementara selama kurun waktu 14-25 Mei, selang yang dipasang masih tetap yang lama. Dengan telah dilewatinya waktu di Rumah Sakit, kekuatiran pasangan yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh lepas diperkebunan sawit ini semakin bertambah. Apalagi kalau bukan beban biaya yang dipikirkan keduanya. Bagaimana tidak, untuk datang ke Bengkayang saja mereka harus meminjam uang kepada sanak saudaranya. Maria juga mengaku kuatir ketika penderitaannya ini diketahui oleh media.

“Saya kuatir setelah ini mereka (dokter) berbuat macam-macam kepada suami saya,” ungkap Maria dengan rona polos.

Mengetahui kondisi yang menimpa keluarga tersebut, salah seorang tetangga mereka, sebut saja Syaiful kemudian mendatangi kantor BPMPKB Kabupaten Bengkayang. Datang pada saat yang tepat, Syaiful yang didampingi wartawan ini langsung bertemu dengan Kepala BPMPKB, dr. I Made Putra Nagara diruang kerjanya guna mempertanyakan tanggungjawab mereka sebagai pelaksana.

“Mengenai pembiayaan jangan dikhawatirkan, karena itu menjadi tanggungjawab kami dan BKKBN Kalbar sebagai penyelenggara program,” terang I Made usai mendengarkan penjelasan mengenai masalah yang menimpa Marselinus. Untuk itu Ia minta kepada pihak keluarga agar setiap pengeluaran atas pengobatan dan perawatan pasien dapat dilaporkan secara detail selanjutnya dari rincian tersebut pihaknya akan melakukan pembayaran.

“Termasuk biaya yang telah dikeluarkan pada saat pasien menyewa mobil ambulan dari Seluas,” tambahnya.

Pejabat yang sebelumnya bertugas sebagai Kepala Dinas Kesehatan Bengkayang ini langsung mengunjungi pasien di RSUD dan melakukan koordinasi dengan pihak Rumah Sakit mengenai penanganan Marselinus.

Diskusi

One thought on “Ingin Dua Anak, Marselinus Menderita

  1. lalu buut kat e

    Posted by nicodelumar | Mei 31, 2012, 3:23 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: