//
you're reading...
Bengkayang, Bupati Bengkayang, DPRD Bengkayang, Pemda Bengkayang, Sosial

14 Tahun ke Malaysia, Paulus Atok Dikabarkan Meninggal Dunia

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Bengkayang – Kalbar Times

Daripada Hujan Emas di Negeri Orang, Lebih Baik Hujan Batu di Negeri Sendiri. Pepatah ini mungkin sudah tak lagi asing bagi masyarakat yang memiliki arti kurang lebih Bagaimanapun enak atau senangnya hidup dinegeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

Pepatah ini mungkin tepat ditujukan pada Paulus Atok, warga Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar. Iming-iming untuk meraup Ringgit membuat Ia harus meninggalkan keluarga besarnya, merantau ke negeri Jiran Malaysia. Bukannya uang melimpah yang didapat, sebaliknya orang tua Paulus Atok mendapatkan kabar bila putra keduanya itu sudah meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Itupun diketahui orang tuanya melalui informasi dari kenalan yang pernah bertemu dengan Atok pada Februari 2011 yang lalu.

“Kami dapatkan kabar bila Atok sudah meninggal dunia dari rekannya yang baru pulang dari Malaysia pada tahun 2011 lalu,” ungkap orang tuanya, Tarius (59), yang ditemui wartawan ini, Selasa (3/7) di Bengkayang. Selain kabar meninggal dunia, tak ada kabar lain seperti dikuburkan dimana atau dimana lokasi perkebunan sawit Paulus Atok meninggal dunia.

Meski demikian, Tarius mengaku belum yakin dengan kabar yang disampaikan kepadanya itu dan Ia pun berharap pada suatu saat anaknya itu akan kembali kerumah berkumpul bersama keluarga. Seperti diceritakannya, putranya itu berangkat ke Malaysia tanpa modal pendidikan yang mumpuni dan surat menyurat yang lengkap, Ia berangkat bersama rombongan pada 13 Agustus 1997 yang lalu, setidaknya ada 30 orang. Tetapi sebelum itu Paulus Atok bekerja sebagai di Sebaho, membuat papan dan balok dihutan bersama pamannya.

“Rombongan mereka memasuki Malaysia melalui perbatasan di Jagoi Babang,” terangnya.

Dari informasi yang didapat Tarius, awalnya Atok bekerja di peternakan ayam, kemudian berpindah-pindah ditempat kerja yang lain dan terakhir dikabarkan anaknya itu bekerja di areal perkebunan sawit. Setelahnya, Tarius tak lagi mengetahui kabar tentang anaknya. Pernah Ia melaporkan perihal itu ke pihak kepolisian setempat, Polsek Lumar yang pada saat itu dipimpin Aiptu Safari, termasuk juga kepada Presiden Front Pembela Dayak, Petrus SA (secara lisan), namun hingga saat ini tak ada tindaklanjut dari kedua pihak.

Sementara untuk mencari langsung di Malaysia, Ia mengatakan hal itu tak mungkin. Selain karena tidak mengetahui apa-apa terkait wilayah di Negara bagian tersebut dan dimana anaknya pernah bekerja, Tarius juga mengaku tidak memiliki biaya untuk pergi. Apalagi pendapatannya sehari-hari hanya dari hasil bertani.

“Makanya saya sempat melaporkan masalah itu kepihak kepolisian, dengan harapan agar ada tindaklanjutnya,” lugasnya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: