//
you're reading...
Bengkayang, Bupati Bengkayang, DPRD Bengkayang, Infrastruktur

Pembangunan di Lembah Bawang Butuh Perhatian Serius Pemerintah

Oleh KRISANTUS VAN SEBOL

BENGKAYANG, KALBAR TIMES

Kecamatan Lembah Bawang saat ini merupakan salah satu dari tiga Kecamatan di Kabupaten Bengkayang yang masih dikategorikan terisolasi. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena minimnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur didaerah tersebut. Ironisnya, Kecamatan yang terdiri dari 8 Desa ini merupakan daerah asal dari pejabat teras Bengkayang, yakni Sekda Bengkayang, Drs. Kristianus Anyim, M.Si.

Mengenai hal itu, Sekretaris Desa Lembah Bawang, Lukas Inarko yang mengatakan pembangunan infrastruktur yang dimaksud adalah ketersediaan infrastruktur dibidang transportasi khususnya jalan dan dibidang energi yakni listrik bagi masyarakat. Perlunya perhatian pemerintah terhadap dua lini tersebut menurutnya akan mempermudah pembangunan disektor lain baik sektor ekonomi, pendidikan ataupun kesehatan dan pertanian. Akibat kerusakan jalan yang cukup parah itupula, saat ini kebanyakan masyarakat mengambil alternatif untuk melewati jalan-jalan perusahaan yang beroperasi didaerah tersebut.

“Jalan yang mengakses ke Kantor Camat Lembah Bawang itu, khususnya jalan yang melalui Samalantan dibangun sejak Bengkayang masih bergabung dengan Kabupaten Sambas,” ungkapnya.

Padahal menurut Lukas, masyarakat Lembah Bawang dari tahun ke tahun selalu mengajukan pembangunan jalan dan pengadaan listrik didaerah mereka, terutama melalui Musrenbang Kecamatan yang dilaksanakan tiap tahun dan selalu menempati urutan pertama dari pengajuan masyarakat.

Sementara mengenai keterbatasan pasokan listrik di Lembah Bawang, warga setempat, Triana Abi mengatakan bahwa saat ini hanya sebagian kecil masyarakat saja yang bisa menikmati listrik dari genset (milik PNPM), itupun dengan waktu terbatas. Selebihnya, sebagian besar masih menggunakan lampu pelita, yang mana bahan bakarnya adalah minyak tanah meski terkadang menggunakan solar untuk menghidupi lampu pelita mereka.

“Terkadang pakai solar, karena selain sulit didapat, minyak tanah juga harganya sangat mahal. Per kilogramnya disini mencapai Rp.18 ribu,” terang Abi.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: