//
you're reading...
Adat Dayak dan Budaya, Bengkayang, Bupati Bengkayang, DPRD Bengkayang, Pemda Bengkayang

DAD Bengkayang Tak Bertaji dan Mandul

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

DAD Bengkayang

Drs. Kristianus Anyim, M.Si, Ketua DAD Bengkayang Dilantik Pada Saat Musdat II DAD Bengkayang 2010

Bengkayang (Kalbar Times) –
Sejak dilantik Januari 2010 yang lalu, peran Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang belum memberikan dampak yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat adat. Terutama terkait peran lembaga ini dalam menangani permasalahan yang dihadapi masyarakat adat dengan berbagai perusahaan sawit. Seperti perampasan tanah adat di Kecamatan Seluas Desa Sahan yang mengakibatkan bentrokkan antara masyarakat setempat. Penggusuran lahan masyarakat yang dilakukan dengan semena-mena oleh pihak perusahaan termasuk penggusuran tempat keramat di desa Mayak, bahkan gejolak ditengah masyarakat seperti yang dialami oleh masyarakat di Kecamatan Lembah Bawang mengenai pembagian plasma, Penggusuran lahan masyarakat Desa Ampar Benteng, Kecamatan Teriak baru-baru ini yang dilakukan tanpa melalui proses sosialisasi dan masih banyak lagi. Terkait hal itu, Ketua Gerakan Pejuang Bakati’ Raya (GPBR) Kalbar, Wardi Sidanggek, S.Si menilai keberadaan DAD Bengkayang sebagai lembaga yang kurang bertaji dan cenderung mandul.

“DAD Kabupaten Bengkayang seharusnya tampil paling depan untuk membela masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat ditanah leluhur mereka,” tegasnya.

DAD harusnya menjadi lembaga yang paling strategis menyelesaikan permasalahan ini karena DAD bisa menggerakan generasi muda adat dan tokoh adat di desa untuk menentang keras perusahaan yang merugikan masyarakat. Namun apa yang terjadi selama ini, masyarakat seakan-akan dibiarkan berjalan sendiri untuk menghadapi persoalan yang dihadapi, khususnya dalam menghadapi kekuatan pihak perusahaan. Masyarakat terpaksa menjual lahannya dengan harga murah dari pada tidak berharga dan digusur oleh perusahaan karena alasannya peta kawasan perkebunan sudah masuk wilayah mereka.
Disamping menyebutkan permasalahan diatas, mantan Ketua IMKB Bengkayang ini juga menilai tidak produktif atau mandulnya lembaga ini karena ternyata masih banyak potensi Budaya dan Sejarah Adat dari Masyarakat Bengkayang yang heterogen belum terjamah secara maksimal oleh lembaga ini. Dikatakannya, apa yang nampak selama ini dilakukan oleh DAD Bengkayang hanyalah mengikuti atau sebatas menyelenggarakan gawai Dayak saja.

Selebihnya, Wardi berharap agar kedepan Pengurus DAD Bengkayang lebih peka dan menjadi pelopor pembela Masyarakat Adat, DAD menjadi lembaga yang produktif dan mampu diandalkan ketika munculnya sebuah permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat adat sehingga segala potensi yang dimiliki tidak hilang ditelan jaman.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: