//
you're reading...
Bengkayang, Bupati Bengkayang, Pemda Bengkayang, Perusahaan Sawit Bengkayang, Polres Bengkayang

Kecewa, Warga Kinande Bakar Camp PT. Darmex Agro

Oleh : KRISANTUS VAN BENGKAYANG

PT. Darmex Agro

Kunci Alat Berat

Bengkayang (Kalbar Times) –
Kecewa karena tak kunjung direalisasikannya tuntutan mereka untuk memperoleh kebun plasma, Senin (26/11) sekira 600-an warga Desa Kinande melakukan pembakaran terhadap kantor dan gudang serta mesin genset milik PT. Darmex Agro yang berada di Divisi II dan III. Disamping itu, warga berhasil mengamankan satu unit alat berat (ekskavator). Amarah yang ditunjukkan warga tersebut dirasakan sebuah kewajaran, hal ini disebabkan karena tuntutan plasma dari masyarakat terhadap perusahaan tak kunjung direalisasikan, warga juga kecewa dengan lambatnya upaya yang dilakukan oleh pemerintah setempat dalam merealisasikan tuntutan mereka.

“Dan yang terbaru, adanya pelanggaran adat-istiadat masyarakat setempat oleh aparat kepolisian dengan mengambil paksa empat unit kendaraan membuat amarah masyarakat semakin tinggi,” ungkap Sekda LIRA, Rodianus Tumpok melalui Wakilnya, Damianus Eko, Senin (26/11) di Bengkayang.

Menurut Eko yang memantau langsung aksi itu, menyebutkan meski aksi yang dilakukan masyarakat, Senin (26/11) sekira pukul 16.30 WIB tersebut bersifat keras, Ia memastikan tidak ada satupun korban nyawa yang dialami kedua belah pihak, baik masyarakat maupun pihak perusahaan terutama para pekerja.

Herman : Polisi Rusak Adat, DAD Bengkayang Harus Berani

Terkait perampasan kendaraan empat unit kendaraan Dumptruck yang dilakukan oleh oknum Kepolisian Resor Bengkayang Sektor Samalantan pada hari Kamis (22/11) di Desa Kinande, Anggota Komisi B DPRD Bengkayang, Herman meminta agar Lembaga seperti Dewan Adat Dayak (DAD) Bengkayang dapat mengambil sikap tegas dan berani dalam menyikapi tindakan pelanggaran (perusakan) adat yang dilakukan oleh aparat kepolisian tersebut.
Alat itukan sudah dipagar secara adat, seharusnya apabila hal itu sudah dipagar secara adat, bukanyapun harus secara adat walaupun hanya dengan seekor anjing atau ayam atau satu tempayan. Jangan mereka menginjak-injak adat-istiadat masyarakat.

“Jika memang DAD Bengkayang tak mau turun tangan membantu masyarakat, lebih dibubarkan saja lembaga itu,” tegas Herman.

Secara bersamaan, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bengkayang, Donatus Nonon, pernyataan yang disampaikan oleh Anggota Komisi B DPRD Bengkayang tersebut. Menurutnya, apa yang telah dilakukan oleh aparat kepolisian dengan merusak adat masyarakat setempat merupakan sebuah pelecehan terhadap Suku Dayak secara umum. Ini tentunya menjadi pekerjaan tersendiri bagi lembaga yang mengatasnamakan adat Dayak itu.

“Hukum adat itukan tidak memandang siapa yang melanggar, apa jabatan dan kedudukannya. Apabila telah melanggar, ya harus ditindak,” kata Nonon.

Sementara itu, ketika dihubungi via telepon, Minggu (25/11), Ketua DAD Kalbar, Yakobus Kumis, mengungkapkan apabila kendaraan yang sudah dibuat (dipagar) secara adat, harusnya apabila dibuka, juga mesti melalui proses adat yang berlaku pada komunitas masyarakat adat setempat. Setidaknya aparat kepolisian berkoordinasi dengan pengurus mulai dari Kepala Desa, Timanggung, Pasirah, Kepala Adat, Kepala Binua, sesuai dengan yang ada di daerah tersebut.

“Polisi seharusnya mampu melihat persoalan secara seimbang, jangan hanya melihat sebelah pihak. Polisi juga harusnya mampu melihat mengapa persoalan itu (penahanan mobil) bisa terjadi. Jangan hanya persoalan perusahaan saja yang diperhatikan,” kata Yakobus Kumis.

“Setiap upacara adat itu harus dihormati. Polisi jangan jadi alat perusahaan untuk berhadapan dengan rakyat,” tambahnya.

Menurutnya, apabila aparat kepolisian mengetahui permasalahan tentunya tidak akan semudah itu mengambil tindakan (perampasan) atas laporan dari pihak perusahaan, karena pada dasarnya keberadaan polisi ini bukan untuk membela perusahaan tetapi harus mampu melihat kepentingan masyarakat. Mengenai penahanan kendaraan tadi, jika memang pihak perusahaan belum memberikan kejelasan dan kepastian terhadap tuntutan masyarakat, jadi wajar-wajar saja apabila masyarakat menahan kendaraan tersebut. Itukan sebagai resiko yang dihadapi perusahaan jangan mau nyamannya saja sementara masyarakat menderita. Perusahaan berada dalam lingkup masyarakat adat. Untuk upacara adat yang sudah disepakati oleh komunitas adat setempat itu harus dihormati. Apabila masyarakat ingin menahan barang itu, apakah mereka dipersalahkan? Tidak bisa. Tentu ada sebab akibat. Kenapa masyarakat menahan mobil dumptrucknya.

Diskusi

One thought on “Kecewa, Warga Kinande Bakar Camp PT. Darmex Agro

  1. Sebagai Pemuda Saya juga mengerti akan kondisi yang kalian alami, Tapi saya juga prihatin melihat banyak mereka tidak mengerti akan inti permasalahan,menjadi sasaran. banyak nilai2 yg perlu di pahami,sebelum bertindak berfikir secara matang. tujuan kalian hanya menuntut apa yang seharusnya menjadi hak kalian dengan pemilik PT.Darmex. saya harap tidak ada konflik horizontal yang terjadi antara masyarakat. semoga masalah ini dapat titik terang.
    Selamat berjuang pak Pilipus untuk masyarakat kinande.

    Posted by VAN DER SAR | Desember 7, 2012, 3:08 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: