//
you're reading...
Bupati Bengkayang, Pemda Bengkayang, Polres Bengkayang

Masyarakat Diminta Waspada Terhadap Kejahatan Dengan Cara Hipnotis

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Bengkayang (Kalbar Times) – Tidak ada salahnya jika kita selalu bersikap waspada terhadap kondisi lingkungan sosial saat kita berada. Terutama terhadap seseorang yang belum dikenal sama sekali. Hal ini dimaksud untuk meminimalisir munculnya aksi kejahatan dengan cara hipnotis yang mana akhir-akhir ini marak terjadi di Bengkayang. Apalagi dalam menjalankan aksinya, para pelaku menggunakan kemampuannya mempengaruhi pikiran calon korban untuk tujuan mengambil apa saja yang dianggap berharga dari korbannya. Korbannya pun tidak mengenal batas usia, status sosial dan jenis kelamin.

Berdasarkan penelusuran yang berhasil dilakukan baru-baru ini, salah seorang korban, yakni Mian (58), warga Desa Belimbing, Kecamatan Lumar mengaku apabila pada Nopember 2012 yang lalu dirinya telah menjadi korban dari aksi kejahatan bermodus hipnotis tersebut. Akibatnya, uang dan kalung emas milik istrinya berhasil dibawa kabur oleh pelaku. Ia pun mengalami kerugian sekitar Rp.2.7 juta.

Dikatakannya, kejadian berawal ketika Ia bersama istrinya hendak menuju Kota Bengkayang untuk berbelanja dengan menggunakan sepeda motor. Namun ditengah perjalanan, tepatnya diruas jalan sekitar Kolam Renang Magmagan Wood, Ia mendapati dua orang pria, dimana salah seorang pelaku meminta Ia berhenti dengan alasan menanyakan peralatan sepeda motor yang bisa digunakan untuk memperbaiki ban motor mereka yang bocor. Karena tidak menaruh curiga, Mian kemudian berhenti. Dari situ aksi pelaku dimulai. Setelah terjadi perbincangan singkat dan sesekali pelaku menepuk bahunya, Mian mengaku tidak mengingat hal apa saja yang dibincangkan antara ia dan istrinya dengan salah seorang pelaku. Ia hanya ingat salah seorang pelaku menyodorkan 1 gelas aqua (minuman mineral), setelahnya pelaku menanyakan jumlah uang serta perhiasan yang saat itu dibawanya. Tanpa sadar, ketika pelaku meminta saya dan istri untuk menyerahkan sejumlah uang (Rp.1.8 juta) dan kalung emas yang terpasang dileher istri, barang itu langsung diserahkan.

“Kami baru menyadari ketika kedua pelaku tersebut telah pergi beberapa menit kemudian,” ungkapnya. Rencana untuk berbelanjapun akhirnya dibatalkan karena uang yang ada lenyap.

Selain Mian, aksi kejahatan ini juga dialami oleh salah seorang guru, yakni Abas. Akibat aksi itu, Ia harus kehilangan uang senilai Rp.7 juta dirumahnya sendiri setelah pelaku mendatangi kediamannya di Dusun Doyot. Tidak hanya itu, pada bulan Nopember lalu, Asem, warga Dusun Madi, juga mengalami hal yang sama. Maksud hati hendak membeli barang sebagai keperluan tokonya, Asem tanpa sadar harus kehilangan uang sekitar Rp.17 juta di pasar Bengkayang.

Bila berkaca dari pengakuan beberapa korban tersebut, sepertinya kejahatan dengan cara hipnotis sepertinya sedang mengalami perkembangan di Bengkayang. Aparat kepolisian, sebagai pihak yang berwenang menangani masalah ini diharapkan dapat memperhatikan hal tersebut.
Modus yang dipakai para pelaku tidak lagi konvensional dengan memandang mata calon korban. Tapi sudah lebih banyak dengan mempengaruhi pikiran lewat dialog, walau sesekali masih dibaringi dengan cara menepuk pundak sang calon korban. Memperhatikan kasus-kasus penipuan hipnotis yang diungkapkan para korban dapat diketahui bahwa para pelaku mengincar calon korban yang sedang berjalan sendirian di tengah keramaian. Misalnya di terminal bus. Calon korban kemudian diikuti dari belakang.

Setelah sampai pada waktu dan tempat yang dianggap tepat, pelaku kemudian mendekati korban. Dengan sikap ramah, bahkan bila perlu berpura-pura kenal, pelaku kemudian menepuk bahu korbannya. Korban yang sudah terkena pengaruh, akhirnya mau berjabat tangan dan menurut saja saat diajak pergi ke suatu tempat yang sepi. Di tempat itu, pelaku berusaha menyenangkan korban dengan terus mengajak bicara. Bahkan membelikan makanan dan minuman. Setelah itu muncul teman pelaku dengan aneka lagaknya. Setelah situasi sudah dirasa akrab, teman pelaku lalu bersikap seolah-olah kaget melihat wajah korban. Dengan mengatakan korban sedang terkena guna-guna seseorang, ia kemudian memegang tangan korban dan mengaku dapat menyembuhkan guna-guna itu dengan telur dan air mineral. Dalam pengaruh bawah sadar, korban kemudian menurut saja apa kata pelaku. Termasuk saat diminta membeli telur dan air mineral. Saat proses penyembuhan berlangsung itulah, pelaku kemudian bertanya soal apa saja yang berada dalam tasnya. Korban baru sadar setelah menjadi korban penipuan, setelah semua barang berharganya lenyap dibawa pergi pelaku.

Kejahatan inipun sebenarnya bisa dihindari. Sepanjang seseorang bisa tetap mengendalikan kesadarannya ketika bertemu dengan orang yang kehadirannya memang terasa ganjil. Hipnotis masuk ke dalam tubuh seseorang melalui berbagai cara. Diantaranya melalui sentuhan seperti memukul tubuh seseorang melalui kepulan asap rokok atau melalui mantra-mantra. Saat itulah fisik dan pikiran calon korban tidak boleh kosong, harus tetap bekerja misalnya bernyanyi atau berdoa dalam hati. Kesadaran memang menjadi kunci membentengi diri dalam menghadapi berbagai gangguan yang bersifat nonfisik. Sebab, jika motor berpikir kita selalu bekerja dan dalam kendali kesadaran, apapun yang datangnya dari luar akan sulit menguji ketahanan kita.Apalagi jika benteng itu sebuah keyakinan utuh, bahwa segala suatu datang dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya jua.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: