//
you're reading...
Bengkayang, Bupati Bengkayang, Pemda Bengkayang, Perusahaan Sawit Bengkayang, Polres Bengkayang

LIRA Sambut Baik Keinginan Warga Desa Kalon

Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Bengkayang, Rakyat Kalbar – Keinginan warga Desa Kalon, Kecamatan Seluas yang menginginkan pendampingan dari Lembaga Informasi Rakyat (LIRA) guna memperoleh hak atas sertifikat kebun plasma dari PT. Ceria Prima disambut baik oleh Sekretaris LIRA Bengkayang, Radianus Tumpok.

“Pada tanggal 28 Februari lalu, mantan Kepala Desa Kalon, Puranto meminta LIRA turut serta mendampingi masyarakat dan petani sawit di Desa Kalon yang menginginkan kejelasan terkait status kepemilikan sertifikat kebun plasma mereka dari PT. Ceria Prima,” jelas Tumpok, Senin (4/3) di Bengkayang.

Seperti diketahui, masyarakat Desa Kalon mulai dieksploitasi perkebunan sawit oleh PT. Ceria Prima pada tahun 1996 atau 17 tahun yang lalu. Selama kurun waktu tersebut, masyarakat setempat telah mendapatkan kebun plasma dari pihak perusahaan seluas ±300 Hektare bagi 150 KK. Namun hingga saat ini, masyarakat tak kunjung mendapatkan sertifikat kepemilikan atas kebun yang mereka olah tersebut.

“Masyarakat khawatir dengan tidak diperolehnya sertifikat lahan sebagai kekuatan hukum atas kepemilikan kebun plasma,” sebutnya.

“Kami khawatir apabila sewaktu-waktu hak atas kebun dirampas oleh pihak perusahaan karena status kepemilikan yang belum dikuatkan dengan badan hukum(sertifikat),” timpal Puranto ketika dihubungi via telepon.

Dikatakannya, selama ini dalam pengelolaan hasil kebun sawit, masyarakat (petani) berjalan dengan lancar. Dari luas area 300 Hektar itupula, setiap bulan para petani mampu menghasilkan buah sawit seberat 100-200 ton. Hasil tersebut kemudian dibagi kepada petani setelah dipotong hutang kebun pada Bank Mandiri melalui PT. Ceria Prima. Pembayaran utang ini dimaksud sebagai bagian dari proses pembayaran para petani atas lahan kepada pihak perusahaan. Artinya, setelah selesai, status kebun dapat menjadi milik petani.

“Untuk beban pembayaran petani belum dirincikan secara detail berapa besar biaya yang harus dilunasi tiap kapling (2 H) kebun sawit. Secara Global bBeban hutang petani untuk luas area 300 hektar itu senilai 20 Miliar dari 18 Miliar sebelumnya,” kata Puranto yang juga pengurus Koperasa Usaha Terpadu Desa Kalon.

Oleh karena proses pembayaran tersebut sudah berlangsung selama tiga tahun lebih, maka dirasakan wajar apabila masyarakat Desa Kalon yang menjadi petani mempertanyakan kejelasan sertifikat kebun. Karena jika dikalkulasikan, rata-rata hasil TBS setiap bulan adalah 150 ton x Rp.1000 maka total hutang yang telah dibayar oleh petani pada Bank Mandiri Cabang Kalbar Pontianak sebesar Rp. 6,6 Miliar. (Juli 2009 – Februari 2013).

“Proses pembayaran selama ini dilakukan melalui koperasi Usaha Terpadu Desa Kalon,” tandasnya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: